Bahagia



Bahagia itu sederhana. Ucapkan saja cinta kepada orang yang paling kita cinta. Dan tunggu jawabannya. Nyanyikan lagu yang paling kita suka. Mainkan musiknya. Ikuti alunan lagu tersebut. Menari dan berdendanglah. Bahagia itu akan datang...  


Indera Malam




"Biarkan gelap mendekap. Biarkan sang bulan mengalahkan gelapnya~Firza Diantry"

Rasanya malam adalah sahabat yang paling lekat dan dekat. Setiap terang mengumpat, sang gelap bersorak meneriakkan kemenangannya. Malam adalah dimana serabut otak kembali terhimpit dan tertindih oleh bisik-bisik pemikiran yang menurut sang hati tak perlu lagi terlihat oleh akal. Indera perasa ini lebih peka dan cerdas ketika malam menyerang indera pemikiran, bukanlah lidah, tapi hati. Bagaimana tidak? Entah memiliki kemampuan lebih atau tidak, tetapi setiap malam sang hati lebih cekatan dalam menangkap bayang-bayang cerita yang sudah terlupa. Dan sang pendengar, seolah menutup telinganya oleh kalimat yang telah terucap oleh sang terang.

Bisikkan


Aku terduduk diam, kepalaku menenggak memperhatikan langit yang sedang menghujan yang sedari tadi tak juga kunjung berhenti. Udara kurang bersahabat, nafas agak sesak, dan aku hanya memakai cardigan yang tak layak dikatakan pakaian hangat. Disudut kampus, lantai 3. Sendiri mendengarkan lagu yang sudah setia menjadi playlist favourite di Handphoneku. Sambil menunggu Rizky kembali dari membeli minum. Terlintas sebuah pemikiran lama. AAAAAH rasanya otakku ingin meledak. Dadaku semakin menyesak, bukan karna asma yang biasa kambuh, tetapi pemikiran dangkal yang kembali datang menghimpit serabut otak dan menyerang otot tubuhku hingga melemas.