Kertas Penenun Rindu

Terduduk diam sesosok gadis di tepi sungai. Sambil memperhatikan alir arus membawa pergi warna-warni perahu kertas yang ia buat. Sambil menopang dagu, ia melengkungkan bibirnya dibawah terik sang bulan. Tak lama, ia mengambil gitar kesayangannya. Tak jelas petikan apa yang ia mainkan. Tak membentuk rangkaian nada. Terlukis oleh suasana malam yang lembab, gadis itu melantunkan prakata rindu. Terdengar lembut dan gundah. 

"Di daun yang ikut mengalir lembut. Terbawa sungai ke ujung mata. Dan aku mulai takut terbawa cinta. Menghirup rindu yang sesakkan dada. Jalanku hampa dan kusentuh dia. Terasa hangat oh didalam hati. Kupegang erat dan ku halangi waktu. Tak urung jua ku lihat dia pergi.


Tak pernah kuragu dan slalu kuingat. Kerlingan matamu dan sentuhan hangat. Ku saat itu takut mencari makna. Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada. Kau datang dan pergi oh begitu saja. Semua kuterima apa adanya. Mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu kita bertemu."

Alunan prakata rindu telah ia sampaikan pada cahaya bulan bersama dengan gemericik air hujan yang jatuh. Gadis itu kembali menunduk dan terisak. Mengantar kerinduan yang membelenggu pergi bersama kertas penenun rindu dan membiarkan dingin memeluknya.




0 comment: